Jual Identitas Demi Latih AI, Untung atau Bumerang?
Di era kecerdasan buatan, identitas pribadi kini memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Banyak orang mulai menjual data diri mereka untuk membantu melatih sistem AI seperti ChatGPT. Tren ini berkembang cepat karena imbalannya cukup menggiurkan, terutama bagi mereka yang tinggal di negara dengan upah rendah.
Jacobus Louw, seorang pria muda dari Afrika Selatan, menjadi salah satu contoh. Ia merekam video sederhana seperti langkah kaki di trotoar dan pemandangan sekitar. Dari aktivitas tersebut, ia memperoleh bayaran sekitar USD 14 hanya dari satu tugas. Dalam beberapa minggu, total penghasilannya bisa mencapai USD 50. Aktivitas ini dilakukan melalui aplikasi seperti Kled AI, yang memang dirancang untuk mengumpulkan data visual dari pengguna.
Tidak hanya itu, di India, Sahil Tigga memanfaatkan aplikasi Silencio untuk merekam suara lingkungan. Ia mengabadikan suasana kota, restoran, hingga lalu lintas. Dari pekerjaan ini, ia mampu menghasilkan lebih dari USD 100 per bulan. Bagi sebagian orang, pekerjaan ini dianggap mudah karena hanya memanfaatkan aktivitas sehari-hari.
Perkembangan AI sangat bergantung pada data dalam jumlah besar. Model bahasa modern membutuhkan berbagai jenis input, mulai dari teks, gambar, hingga suara. Namun, sumber data berkualitas tinggi semakin terbatas. Banyak dataset besar kini mulai dibatasi penggunaannya, sehingga perusahaan teknologi harus mencari alternatif lain.
Di sinilah peran manusia menjadi penting. Data langsung dari manusia menampilkan akurasi dan relevansi lebih tinggi daripada data sintetis. Karena itu, berbagai platform seperti Neon Mobile menawarkan bayaran kepada pengguna yang bersedia membagikan percakapan pribadi mereka. Bahkan, ada layanan yang membayar per menit untuk rekaman suara atau telepon.
Fenomena ini menciptakan pekerjaan baru, “AI gig work”, yang memanfaatkan identitas seseorang untuk melatih AI. Meski peluangnya menjanjikan, risikonya tetap nyata.
Meski keuntungan finansial datang dengan mudah, banyak orang mulai menyadari sisi gelap praktik ini. Begitu data dijual, kontrol hilang, dan identitas digital bisa digunakan di luar kesepakatan awal.
Seorang aktor bernama Adam Coy mengalami hal tersebut. Ia menjual kemiripan wajah dan suaranya untuk proyek AI. Namun kemudian, versi digital dirinya tersebar dalam konten-konten yang tak pernah ia setujui. Situasi ini membuatnya merasa tidak nyaman dan menyesal.
Data pribadi yang sudah dibagikan kerap digunakan kembali tanpa sepengetahuan pemiliknya. Risiko penyalahgunaan identitas pun semakin besar, terutama jika regulasi belum cukup kuat untuk melindungi pengguna.
Menjual data pribadi untuk melatih AI memang membuka peluang ekonomi baru. Banyak orang telah terbantu secara finansial melalui cara ini. Pertimbangkan risiko jangka panjang secara serius.
Ke depan, kesadaran pengguna menjadi kunci utama. Individu perlu memahami penggunaan data mereka sebelum memutuskan untuk menjualnya. Tanpa kehati-hatian, keuntungan sesaat bisa berbalik menjadi masalah besar.
Satu hal jelas: identitas digital adalah aset bernilai tinggi yang menuntut perlindungan bijak dan serius. Baca berita lain di sini.
Nama Sam Altman dikenal luas sebagai sosok di balik kesuksesan ChatGPT. Sebagai CEO OpenAI, ia…
Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Iran melontarkan ancaman terhadap fasilitas teknologi milik Amerika Serikat di…
Perusahaan infrastruktur internet Akamai menghadirkan fitur baru berbasis kecerdasan buatan (AI) pada layanan Guardicore Segmentation.…
Ancaman ransomware kini menjadi salah satu risiko terbesar dalam dunia digital, terutama ketika dikombinasikan dengan…
Teknologi Pintar yang Disalahgunakan Perkembangan teknologi kecerdasan buatan kini menghadirkan inovasi baru dalam bentuk kacamata…
Video Aneh yang Langsung Meledak di Media Sosial Sebuah video pendek tiba-tiba viral di berbagai…