Tren Foto AI Bersama Sosok yang Telah Tiada
Media sosial belakangan diramaikan oleh tren baru: membuat foto bersama orang yang sudah meninggal dengan bantuan kecerdasan buatan (AI). Banyak orang menggunakan teknologi ini untuk kembali berpose dengan orang tua, pasangan, anak, hingga sahabat yang telah pergi. Fenomena ini menyebar cepat karena menyentuh sisi emosional yang paling dalam dari manusia: kerinduan.
Psikolog Tabula Rasa, Arnold Lukito, menilai fenomena itu muncul karena peran katarsis dan memorialisasi. Banyak orang mengunggah foto hasil AI dengan menambahkan caption penuh kerinduan, lalu warganet membanjirinya dengan komentar dukungan serta doa. Proses ini bukan sekadar menciptakan gambar, melainkan juga menyalurkan emosi kehilangan yang mendalam.
Fungsi Psikologis di Balik Foto AI
Arnold menjelaskan bahwa dalam psikologi duka ada teori continuing bonds atau ikatan yang terus berlanjut. Seseorang yang berduka sering tidak sepenuhnya “melepaskan” orang tercinta yang meninggal, tetapi menjaga hubungan simbolis dengan berbagai cara.
Dulu, orang mungkin menyimpan pakaian peninggalan atau rajin berbicara di makam. Kini, AI mewujudkan kenangan dalam bentuk foto yang membuat momen lama seolah hidup kembali. Foto AI menghadirkan rasa kendali, meski hanya bersifat ilusi.
“Teknologi memberi pengalaman seolah-olah bisa mengembalikan momen yang sudah hilang. Bagi sebagian orang, hal ini menenangkan dan meredakan kecemasan terhadap finalitas kematian,” ujar Arnold.
Sisi Positif: Healing, Kenangan, dan Dukungan Sosial
Fenomena ini tidak sepenuhnya berbahaya. Jika digunakan dengan bijak, foto AI bisa menjadi bagian dari ritual healing. Melihat sosok orang tercinta dalam bentuk gambar digital dapat membantu seseorang lebih siap menghadapi kenyataan pahit kehilangan.
Selain itu, foto AI juga menghadirkan kenangan positif. Kehangatan, kedekatan, serta rasa syukur atas momen kebersamaan dapat muncul kembali. Bagi banyak orang, hal ini membantu menjaga semangat sekaligus menumbuhkan rasa syukur bahwa mereka pernah memiliki pengalaman berharga.
Dampak positif lain muncul ketika foto tersebut dibagikan ke publik. Unggahan seperti ini sering memicu dukungan sosial berupa doa, simpati, dan kata-kata penghiburan. Dukungan semacam itu menumbuhkan perasaan diterima, dipahami, dan tidak sendirian dalam berduka.
Sisi Negatif: Menghindari Realita dan Risiko Duka Berkepanjangan
Meski memiliki manfaat, tren ini tetap menyimpan potensi bahaya. Arnold menegaskan bahwa penggunaan berlebihan bisa menjadi bentuk avoidance coping, yaitu cara menghindari kenyataan pahit. Alih-alih menerima kenyataan, seseorang justru lebih sering “bertemu” dengan sosok yang sudah tiada dalam bentuk imajiner.
Risiko lainnya adalah munculnya prolonged grief disorder atau duka berkepanjangan. Ketergantungan pada foto buatan membuat seseorang sulit melanjutkan hidup. Mereka bisa terjebak dalam fantasi dan kesedihan yang tidak kunjung selesai.
Lebih jauh, foto AI juga bisa menciptakan keterikatan emosional baru yang semu. Ikatan ini tidak nyata, tetapi mampu memperpanjang keterhubungan dengan masa lalu. Kondisi seperti ini justru berbahaya karena menghambat proses pemulihan emosional yang sehat.
Batasan Penggunaan Foto AI
Arnold menekankan bahwa foto AI dapat berfungsi sebagai sarana healing, asalkan digunakan secukupnya. Penggunaan moderat memberi ruang bagi orang berduka untuk mengekspresikan perasaan tanpa tenggelam dalam fantasi. Namun, jika digunakan secara berlebihan, teknologi ini justru berbalik arah dan menimbulkan risiko psikologis.
Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya hubungan antara teknologi, emosi, dan proses duka. Di satu sisi, teknologi memberi harapan dengan cara menghadirkan kembali momen yang hilang. Sebaliknya, tanpa diimbangi penerimaan terhadap realita, teknologi ini justru dapat memperpanjang penderitaan batin.
Kesimpulan
Foto AI dengan orang meninggal adalah inovasi yang memunculkan dilema: obat rindu sekaligus risiko psikologis. Di tangan yang tepat, teknologi ini bisa menjadi ruang healing, pengingat kenangan indah, serta sumber dukungan sosial. Namun, penggunaan yang berlebihan bisa menimbulkan keterikatan semu, mendorong seseorang menghindari realita, bahkan memperpanjang masa duka.
Dengan kesadaran penuh, masyarakat bisa memanfaatkan foto AI sebagai sarana refleksi dan pengingat, bukan sebagai pelarian dari kenyataan. Pada akhirnya, yang paling penting bukan hanya menghidupkan kembali momen lama, melainkan juga belajar menerima kehilangan agar mampu melangkah maju. Baca berita lain di sini.


